Langsung ke konten utama

Apakah HatiMu

APA HATIMU HITAM ?

Pengaruh maksiat pada hati sungguh amat luar biasa. Bahkan bisa memadamkan cahaya hati. Inilah yang patut direnungkan saat ini.

Ayat yang patut jadi renungan adalah firman Allah Ta’ala,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُون َ

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)

Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.

Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.
Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” [HR. At Tirmidzi].

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.”

Sumber : RumayshoCom

Semoga bermanfaat..
.
==========

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FIQIH DAKWAH

Cermin salaf- Suatu hari seseorang pernah bersin di sisi Abdullah bin Mubaarak, orang itu tidak mengucapkan Hamdalah. Lalu Ibnul Mubaarak menoleh kepadanya dan bertanya, "Apa yang seharusnya diucapkan seseorang ketika bersin..? Orang tadi menjawab, "Alhamdulillah" Ibnul Mubaarakpun berkata: "Yarhamukallah" (Al-Hilyah) Catatan:  Da'i itu seperti dokter, menyembuhkan, bukan menyakiti.  Seperti seorang dokter yang pandai menakar dosis obat, begitu juga seorang da'i, dia harus cerdas dalam menakar nasehat yang akan disampaikan. Mencari cara agar nasehat yang disampaikan tepat sasaran dan tidak melukai orang lain.  Yaah... Walau terkadang, selembut-lembutnya untaian nasehat tetap saja dianggap sebagai tikaman bagi orang lain. Namun sepahit apapun obat, tetap harus di telan. Seorang pemuda pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!” Segera saja oang-orang menda...

SUMBER ILMU ADALAH IBU

ASSALAMUALAIKUM WR.WB. Sekarang saya baca di line,dari sumber yg terpercaya... ternyata oh ternyata ibu adalah sumber Ilmu.... coba baca ya sampai tamat... 🎓 IBUKU ADALAH MASTER SEGALA ILMU 🎓 Tak terbayang untuk menjadi ibu yang baik itu harus banyak belajar dan terus belajar. Istilahnya Long Life Education 😊 Pertama, Ibu harus belajar Akutansi, agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan serta menata pemasukan dan pengeluaran yg seimbang. Kedua, Ibu harus belajar Tata Boga, chef, atau perhotelan, belajar mengatur masakan keluarga serta kreatif menata rumahnya agar tidak bosan. Ketiga, Ibu harus belajar keguruan, ia harus menguasai ilmu yg diajarkan di sekolah dasar agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dengan PRnya nanti. Keempat, Ibu harus belajar Agama, karena ibu lah yang pertama kali mengenalkan anak pada Allah, membangun akhlak yang luhur serta membangun iman yang kokoh. Keli...

Perjalanan Daulah Khilafah Kemunculan Al-mahdi ra.

Diantara kaum muslimin hari ini berada dalam paradigma keliru yang menyatakan bahwa takkan pernah tegak Khilafah Islam, kecuali tiba masanya kedatanya Imam Al-Mahdi. Sebagai pemimpin kaum muslimin yang telah dijanjikan oleh Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam yang akan membawa keadilan dan kedamaian di antara umat manusia. Lebih lanjut, mereka juga ada yang beranggapan—seraya menyandarkan pada hadits Rasululloh  Shallallohu ‘alaihi wasallam tentang Nubuwwat Akhir Zaman—dengan menyatakan bahwa seandainya saja benar ada Daulah Khilafah sebelum era Al-Mahdi, pastilah tidak akan ada kedzaliman pada masa-masa sebelum datangnya Imam Mahdi. Sebab, dalam bayangan mereka, ketika Daulah Khilafah ini wujud di dunia ini, maka serta merta kehidupan akan menjadi nyaman dan tentram, sementara kezaliman akan sirna dengan sendirinya. Barangkali anggapan itu tidak sepenuhnya salah, akan tetapi harus dijelaskan dari sudut pandang mana keadaan itu wujud (adil dan tentram...